Galungan and Kuningan
Written by admin on March 14, 2009 – 9:54 am - 813 viewsGalungan is a Baliness big holiday that accurs every 210 days on “Buda Wage Dunggulan”. And Kuningan comes 10 days after Galungan, on “Saniscara Kuningan”. Galungan is a symbol when “Dharma” is winning.
Artikel di bawah dikutip dari Pinandita Sanggraha Nusantara
Setiap 210 hari sekali berdasarkan penanggalan Bali-Jawa (Javano-Balinese Calender) yakni pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan dan sepuluh hari kemudian akan disusul dengan perayaan Kuningan. Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari Adharma dan mana dari Budhi Atma yaitu : Suara Kebenaran (Dharma) dalam diri manusia. Disamping itu juga berarti kemampuan untuk membedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad) karena hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan rincian upacara Hari Raya Galungan sebagai berikut : “Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacuan pikiran” Jadi inti
Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacuan pikiran (byaparaning idep) adalah wujud Adharma.Rangkaian Perayaan
Hari Raya Galungan dan Kuningan di India dikenal dengan berbagai nama, di antaranya adalah Śraddhā Vijaya Daśami, Durgāpūjā atau Mahanavami. Berdasarkan data prasasti yang ditemukan di Bali, yakni Turuñan Prasasti yang berasal dari tahun 813 Śaka (891 M) yang menyebutkan haywahaywan di māgha mahānavamī (Goris, 1954: 56). Dalam bahasa Bali dewasa ini kata mahaywahaywa (dari kata mahayu-hayu) berarti merayakan. Haywahaywan di māgha mahānavamī berarti perayaan Māgha Mahānavamī. Di India Mahānavami identik dengan Dasara yakni hari pemujaan ditujukan kepada para leluhur (Dubois, 1981:569). Swami Śivānanda (1991:8) mengidentikkan Dasara dengan Dūrgāpūjā yang dirayakan dua kali setahun, yakni Rāmanavarātrī atau Rāmanavamī pada bulan Caitra (April-Mei), dan Dūrgānavarātrī atau Dūrgānavamī pada bulan Asuji (September-Oktober). Perayaan ini disebut juga Vijaya Daśami atau Śrāddha Vijaya Daśami yang dirayakan selama sepuluh
hari, seperti halnya Hari Raya Galungan dan Kuningan di Indonesia. Hari Raya Galungan sudah dirayakan terlebih dahulu di tanah Jawa, ini sesuai dengan lontar berbahasa Jawa Kuno yaitu : Kidung Panji Amalat Rasmi. Di Bali Hari Raya Galungan untuk pertama kali dilaksanakan pada Hari Purnama Kapat , Budha Kliwon Dungulan tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi ini sesuai dengan lontar “Purana Bali Dwipa”. Rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian perayaan yang paling panjang di antara hari-hari raya Agama Hindu.
1. Rangkaian itu dimulai ketika hari Tumpek Pengarah atau Pengatag, yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon Wuku Wariga, tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan dan persembahan ditujukan kepada dewa Śa?kara (nama lain Dewa Śiva) sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dengan mempersembahkan sesajen pada pohon-pohon kayu yang menghasilkan buah, daun, dan bunga yang akan digunakan pada Hari Raya Galungan
2. Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba yaitu; Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrocosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar, dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh” (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan yang terpenting adalah membersihkan badan phisik dari debu kotoran dunia Maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura.
3. Sugihan Bali; Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri sesuai dengan lontar sunarigama: “Kalinggania amrestista raga tawulan” (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Manusia tidak saja terdiri dari badan phisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan phisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita.
4. Panyekeban ? puasa I; Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan. Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif, karena hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan : “Anyekung Jnana” artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan “Nirmalakena” (orang yang pikirannya yang selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan. Melihat pesan Panyekeban ini mewajibkan umat Hindu untuk mulai melaksanakan Brata atau Upavasa sehingga pemenuhan akan kebutuhan semua Indriya tidak jatuh kedalam kubangan dosa; pikirkan yang baik dan benar, berbicara kebenaran, berprilaku bijak dan bajik, mendengar kebenaran, menikmati makanan yang sattvika, dan yang lain, agar tetap memiliki kekuatan untuk menghalau godaan Sang Mara. Jadi tidak hanya nyekeb pisang atau tape untuk banten.
5. Penyajaan ? puasa II; Artinya hari ini umat mengadakan Tapa Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Penyajan dalam lontar Sunarigama disebutkan : “Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi” upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan. Dengan Wiweka dan Winaya, manusia Hindu diajak untuk dapat memilah kemudian memilih yang mana benar dan salah. Bukan semata-mata membuat kue untuk upacara.
6. Penampahan ? puasa III; Berasal dari kata tampah atau sembelih artinya ; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni Mabyakala yaitu memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri, bukan di luar termasuk sifat hewani tersebut. Ini sesuai dengan lontar Sunarigama yaitu ; “Pamyakala kala malaradan”. Inilah puncak dari Brata dan Upavasa umat Hindu, bertempur melawan semua bentuk Ahamkara – kegelapan yang bercokol dalam diri. Selama ini justru sebagain besar dari kita malah berpesta pora makan, lupa terhadap jati diri, menikmati makanan, mabuk. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala- Nyupat Angga Sarira, malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri
7. Galungan ? lebar puasa; Hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai anandam atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.
8. Manis Galungan; Setelah merayakan kemenangan , manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh keceriaan, berbagi suka cita, mengabarkan ajaran kebenaran betapa nikmatnya bisa meneguk kemenangan. Jadi hari iniumat Hindu wajib mewartakan-menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia inilah misi umat Hindu: Dharma Cara- menyampaikan ajaran kebenaran dengan Satyam Vada ? mengatakan dengan kesungguhan daan kejujuran.
9. Pemaridan Guru; Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, maknyanya pada hari ini dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu ; hidup sehat umur panjang dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata. Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup ini ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan filosofisnya.
10. Sepuluh hari setelah Galungan disebut Kuningan merupakan tonggak kembalinya para dewata dan roh suci leluhur menuju kahyangan stana-nya masing-masing yang diyakini tempatnya di svargaloka (alam sorga). Kuningan merupakan hari kasih sayang, yang disimbulkan melalui berbagai pratika upakara seperti: tamiang, koleman, sulangi, tebo, dan endongan.
Bagi saudara-saudara kita yang tidak bisa merayakan Galungan dan Kuningan di Bali, dimana merayakan Galungan & Kuningan nih?Pergi ke temple terdekat? Sayang sekali di tempat saya tidak ada Hindu temple, Galungan dan Kuningan sama seperti hari-hari biasa. “Praying in the heart”.
Tags: bali, galungan, kuningan
Posted in vblog | 2 Comments »



By baliginna on Jun 12, 2009 | Reply
Om swastyastu.
Galungan yg oleh masyarakat Hindu Bali adalah kemengan Dharma melawan Adharma dirayakan satu hari dalam setiap 210 hari sekali. Artinya 219 hari adalah kemengan Adharma. Bahkan dalam setiap perayaan Galungan kita masih banyak menjumpai ada yg merayakannya dgn memunyah dan memotoh. Lalu kapan sebenarnya Dharma tsb menang? hampir tidak pernah. Lalu apakah kita sdh melakukan dharma agama sesuai dgn warisan leluhur kita? Lalu……..lalu….dan lalu….Pertanyaan tsb selalu muncul dlm benak saya ( sbg orang Hindu Bali ) setiap datangnya hari besar agama Hindu jika melihat mereka ( yg suka ) masih merayakannya dgn hal-hal yg negatif ( menurut sudut pandang saya ) Mari kita ajegkan Hindu yg kecil ini agar anak cucu kita ( orang Bali ) kelak bangga menjadi orang hindu Bali. suksma
Om santhi, santhi, santhi om
By admin on Jun 13, 2009 | Reply
Terima kasih atas comment anda. Apa yang kita amati di lapangan memang jauh dari ideal. Ini disebabkan mungkin karena pemahaman terhadap agama mereka dangkal. Atau mereka punya cara sendiri memahami agama. Bagi saya yang juga dilahirkan dikelurga hindu, dulu galungan dan kuningan adalah hari special buat saya.
Sekarang, saya hidup terpisah dari alam Bali, hampir sudah 8 tahun. Di tempat ini saya bepikir dengan otak saya. Saya mencari nilai2 apa yang ada dalam agama dengan membaca buku2 keagamaan spt bhagawad gita, wedha, mahabaratha, mencari artikel2 di internet tentang agama. Saya proud sebagai orang hindu tapi tidak menganggap agama adalah segala-galanya. Agama adalah dasar hati nurani saya. Ketika saya kehilangan arah hidup saya, ada reference agama dalam jiwa saya. Ini menjadi kekuatan yang luar biasa, membuat saya kuat menjalani hidup.
Galungan dan kuningan, maupun ritual lain dalam agama, tidak lebih dari sekedar hari peringatan. Apa yang perlu saya peringati?? mengingatkan saya pada jalan saya sendiri. Tiap hari kita disibukkan dengan kegiatan kantor, tidak punya waktu untuk flashback. Ketika galungan dan kuningan saya menyediakan waktu untuk melihat kebelakang, apa yang sudah yang saya lakukan. Apa tindakan saya selama ini menyakiti orang, apa saya keluar dari jalan hati nurani saya.
Karena saya proud sebagai orang Hindu, saya seperti Bapak, ingin mewariskan hindu pada anak cucu saya. Tapi, saya tidak akan memaksa mereka mewarisi agama yang sekarang saya anut. Urusan agama adalah urusan pribadi orang. Setelah saya memberikan reference agama2 kepada mereka, saya biarkan mereka untuk memilih apa yang mereka anggap terbaik untuk mereka. Karena apa???? Jika memang suatu agama itu adalah dari Tuhan, ajaran itu tidak akan menyesatkan umatnya. Bagaimana kita tahu agama itu dari Tuhan atau tidak??? Tuhan memberikan kita otak untuk berpikir.
Jika anak cucu saya memilih Hindu karena mereka tahu apa itu Hindu, inilah kebanggan terbesar dalam hidup saya.
Suksma.